HUBUNGAN KORELASI ANTARA PANJANG DAN BERAT

Posted on Updated on

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang
Dalam ilmu biologi, percobaan-percobaan yang dilakukan mencakup benda-benda hidup. Tidak ada organisme yang satu spesies sama persis. Keragaman yang ada merupakan ciri-ciri dari makhluk hidup dan merupakan dasar terbentuknya evolusi. Setiap organisme di alam mengalami perkembangan dan pertumbuhan, Pertumbuhan itu merupakan peningkatan ukuran organisme sebagai akibat dari pertambahan jumlah sel, volume, ukuran dan banyak matriks intraselluler selnya. Pertumbuhan mangakibatkan pertambahan panjang,lebar, diameter dan pertambahan berat organisme (Umar, 2007).
Pada dasarnya dikenal ada 3 macam pertumbuhan yaitu pertumbuhan allometrik, pertumbuhan determinan (pada hewan) dan pertumbuhan intermediate (pada tumbuhan) (Umar, 2007)
Adanya keanekaragaman makhluk hidup mendorong manusia untuk melakukan penelitian yang lebih banyak lagi. Salah satu cabang ilmu biologi yang memerlukan penelitian yang lebih banyak lagi adalah ekologi. Dalam ilmu ekologi melakukan penelitian dan pengamatan dalam pengambilan sampel dan data secara acak. Setiap organism memiliki ukuran tertentu yang ditentukan oleh beberapa faktor. Dalam percobaan ini akan dipelajari bagaimana cara mengukur dan menimbang biji serta korelasi antara factor-faktor yang mempengaruhi berat serta ukurannya. Berdasarkan hal-hal tersebut maka percobaan ini dilakukan.

1.2 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan mempelajari hubungan korelasi antara panjang dan berat dari sampel yang diukur.
I.3 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apakah ada hubungan korelasi antara panjang dengan pertambahan berat dari biji salak Salaca edulis dan biji durian
b. Mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan parameter fisik dalam lingkungan
I.4 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2011 pukul 14.00-17.00 WITA yang bertempat di laboratorium Ilmu Lingkungan dan Kelautan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Koefisien korelasi merupakan alat statistic yang penting jika diterapkan pada situasi yang tepat. Harus diingat bahwa koefisien korelasi semata-mata menunjukkan keberadaan dan ketidak beradaan sebuah hubungan apakah positif atau negative antara dua variable. Hal itu seyogyanya tidak disimpulkan bahwa ini berarti sebuah variable adalah penyebab langsung dari yang lain. Bila koefisien korelasi semata-mata digunakan sebagai penunjuk pada beberapa proses hubungan antara dua variable, maka akan berguna bukannya menyesatkan. Ide koefisien korelasi dapat diperluas pada setiap jumlah variable (Resosoedarmo, 1990).

Korelasi ialah suatu keterkaitan yang bisa ditangkap dari perbandingan dua proporsi yang masing-masing proporsi mengandung 2 kriteria yang salah satu kriteria disebutkan dalam kedua proporsi tersebut. Korelasi terbagi atas (Santoso, 2007) :

  1. Korelasi Positif

Misalkan terdapat sebuah populasi yang anggotanya mengandung suatu kriteria P dan beberapa anggota juga memiliki kriteria Q. Maka, pada populasi tersebut P berkorelasi positif dengan Q jika proporsi Q dalam P bernilai lebih besar daripada proporsi Q dalam non-P. Atau sebaliknya, proporsi P dalam Q lebih besar dari proporsi P dalam non-Q. Sebagai contoh, berdasarkan penelitian yang dilakukan produsen sabun A di sebuah toko B kepada 100 orang pengunjung, 30 orang membeli sabun, 10 diantaranya telah mengingat iklan terbaru sabun A. Sedangkan dari yang tidak membeli, 12 orang diantaranya telah mengingat iklan sabun tersebut. Dari contoh ini, terdapat suatu korelasi positif  karena proporsi dari kriteria yang mengingat iklan dan membeli sabun (33%) lebih besar daripada proporsi yang mengingat iklan dan tidak membeli sabun (17%).

  1. Korelasi Negatif dan Tidak Berkorelasi

Suatu korelasi negatif atau malah tidak ada korelasi antara dua proporsi, jika merujuk pada kasus pembelian dan iklan sabun di atas, korelasi negatif terjadi jika proporsi dari kriteria yang mengingat dan membeli sabun lebih kecil daripada proporsi yang mengingat iklan dan tidak membeli sabun. Sedangkan kasus yang tidak berkolerasi bisa terjadi jika kedua proporsi tersebut memiliki tingkat proporsi yang sama (equal).

Koefisien korelasi adalah suatu angka indeks, bukan sebuah pengukuran pada sebuah skala linear dengan satuan-satuan yang sama. Selanjutnya, korelasi adalah selalu relative terhadap situasi dimana itu dicapai, dan sekiranya diinterpretasi dalam kondisi lingkungannya dan sangat jarang dalam arti yang absolute (Resosodarmo, 1990).

Dalam studi-studi ekologi, logaritma bernilai sangat penting karena perkiraan perbandingan lebih sering daripada perkiraan angka sesungguhnya. Hal ini terjadi karena perbandingan lebih berarti daripada angka sesungguhnya sebagai contoh, dalam sebuah percobaan pada suhu yang dapat diterima oleh ikan, adalah masuk akal bila menyatakan bahwa 20% ikan mati pada suhu 35 derajat Celsius daripada menyatakan bahwa 20 ekor ikan mati. Angka ini tidak mempunyai arti, kecuali jumlah total ikan yang digunakan dalam percobaan juga ditentukan. Jadi perbandingan angka lebih menguntungkan daripada angka sesungguhnya (odum,1993).

Dalam suatu penelitian, sampel yang dikumpulkan harus data yang benar, dan cara pengumpulan (sampling) data tersebut harus dilakukan dengan benar dan mengikuti metode dan tata cara yang benar sehingga kesimpulan hasil penelitian yang dapat dipercaya. Prosedur pengambilan sampel yang menghasilkan kesimpulan terhadap populasi yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dikatakan berbias. Untuk menghilangkan kemungkinan bias ini maka sampel harus diambil berdasarkan  prosedur khusus khusus (Spesific procedures). Ada berbagai prosedur untuk memilih sampel, antara lain (Soewarno, 1991) :

  1. Pemilihan acak (random selection), berdasarkan ketentuan bahwa setiap pengukuran dilakukan secara terpisah dan masing-masing data yang diukur mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
  2. Pemilihan sengaja (purposive selection), pemilihan sampel yang dilakukan secara sengaja dan sepenuhnya dengan kesengajaan oleh pengambil sampel.

Pemilihan sampel data hidrologi yang dilakukan secara acak berdasarkan ketentuan bahwa setiap pengukuran dilakukan secara terpisah dan masing-masing data yang diukur mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Prosedur pemilihan sampel secara acak adalah yang paling sering dilakukan oleh para peneliti di bidang hidrologi (Soewarno, 1995).

Ada beberapa tipe pemilihan acak, empat diantaranya disampaikan secara ringkas sebagai berikut (Soewarno, 1995):

  1. Pemilihan acak sederhana (Simple Random Sampling)                            Pemilihan sejumlahsampel(n)buah dilakukan dengan menggunakan suatu alat mekanik (misal: mata uang, dadu, kartu) atau dengan menggunakan tabel yaitu tabel bilangan random (Random digit table). Sebuah sampel yang terdiri dari unsur-unsur yang dipilih dari populasi dianggap cocok, dengan ketentuan bahwa setiap unsure yang terdapat dalam populasi tersebut mempunyai peluang yang sama untuk dipilih. Pemilihan yang bersifat acak akan memberikan hasil yang memuaskan bila populasi darimana asal sampel tersebut dipilih benar-benar bersifat sama jenis atau homogeny.
  2. Pemilihan acak berangkai (Random Serial Sampling)

Pemilihan sampel ditentukan dengan cara membagi populasi berdasarkan interval tertentu.

  1. Pemilihan acak bertingkat

Apabila dalam pemilihan sampel ternyata populasinya terdiri dari bermacam-macam jenis (heterogen), maka populasi tersebut harus dibagi ke dalam beberapa stratum dan sampelnya dipilih secara acak dari tiap stratum. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk :

  1. Menganalisa setiap populasi yang lebih homogenya secara terpisah.
  2. Meningkatkan ketelitian dalam pengambilan keputusan seluruh populasi.

Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif/ terukur. Sedang perkembangan adalah proses menuju kedewasaan pada organisme. Proses ini berlangsung secara kualitatif. Baik pertumbuhan atau perkembangan bersifat irreversibel. Secara umum pertumbuhan dan pekembangan pada tumbuhan diawali untuk stadium zigot yang merupakan hasil pembuahan sel kelamin betina dengan jantan. Pembelahan zigot menghasilkan jaringan meristem yang akan terus membelah dan mengalami diferensiasi. Diferensiasi adalah perubahan yang terjadi dari keadaan sejumlah sel, membentuk organ-organ yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda (Anonim,  2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan  (Hadi, 2008) :
a. Faktor internal
1. Gen
Ukuran, bentuk, dan kecepatan tumbuh dikendalikan oleh gen-gen yang terdapat di dalam skromosom. Gen-gen tersebut diariskan dari induk tumbuhan kepada keturunannya. Gen-gen tersebut akan mengatur pola dan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
2. Hormon

Hormon merupakan senyawa organik yang mengatur pertumbuhan tumbuhan. Hormon juga dikenal sebagai zat tumbuh.
b. Faktor eksternal
1. Air dan Mineral
Tumbuhan memerlukan air dan mineral untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Air dan mineral diserap dari dalam tanah oleh akar. Air berfungsi sebagai pelarut dan untuk fotosintesis. Mineral seperti karbon, nitrogen, fosfat, kalsium, dan magnesium berguna sebagai bahan pembangun tubuh tumbuhan.
2. Kelembapan
Kelembapan menunjukkan kandungan air di tanah dan udara. Bila kelembapan rsendah, transpirasi akan meningkat sehingga penyerapan air dan mineral semakin banyak. Keadaan ini dapat memacu laju pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
3. Cahaya
Cahaya matahari sangat diperlukan dalam proses fotosintesis. Proses ini menghasilkan makanan yang dapat digunakan untuk mendapatkan energi dan membangun tubuh.
4. Metagenesis
Siklus hidup tumbuhan memperlihatkan suatu pergiliran keturunan (metagenesis). Pergiliran keturunan meliputi fase gametofit dan sporofit. Fase gametofit atau fase generatif merupakan tahap menghasilkan gamet haploid. Fase sporofit atau fase vegetatif merupakan tahap menghasilkan spora. Gametofit menghasilkan gamet haploid yang menyatu membentuk zigot

BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum adalah jangka sorong/ caliper, timbangan OHAUS, spidol, mistar dan kalkulator.

III.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah biji salak Salaca edulis,  durian  Durio dan kertas.

III.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja dari percobaan ini adalah pertama-tama kertas dibagi menjadi 20 bagian berbentuk kotak dengan spidol. Setelah itu setiap kotak diberi nomor mulai dari 1 hingga 20. Selanjutnya biji yang telah tersedia diambil secara acak sebanyak 20 biji kemudian diletakkan pada kotak bernomor yang telah dibuat pada kertas tadi. Setelah itu panjang setiap biji diukur dengan jangka sorong kemudian hasilnya ( mm) ditulis pada kotak kertas yang sesuai  dengan nomor kotak tempat mengambil biji tersebut setelah itu biji dikembalikan pada tempatnya semula. Kemudian satu persatu ke 20 biji yang telah diketahui panjangnya, ditimbang secara acak

  1. Menimbang satu persatu ke 20 biji kacang yang sudah diketahui panjangnya secara acak dan mencatat berat serta mengembalikan ke kotak yang sesuai.
  1. Membagi kertas grafik menjadi 20 bagian berbentuk kotak dengan spidol, membagi panjang menjadi 10  bagian dan lebar 2 bagian. Memberi nomor pada setiap kotak mulai dari nomor 1 hingga 20.
  2. Mengambil biji yang tersedia secara acak sebanyak 20 biji kemudian meletakkan pada kotak bernomor yang telah dibuat pada kertas grafik tadi.
  3. Mengukur panjang tiap biji dengan jangka sorong, dengan menulis hasilnya (mm) pada kotak kertas grafik yang sesuai dengan nomor kotak tempat mengambil kacang itu, kemudian meletakkan kembali biji tersebut pada kotak semula.
  4. Menimbang satu persatu ke 20 biji kacang yang sudah diketahui panjangnya secara acak dan mencatat berat serta mengembalikan ke kotak yang sesuai.
  5. Untuk perhitungan, analisis data dan lain-lain, menggunakan data dari dua kelompok perhitungan dari masing-masing kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009, Perkambangan, http///www.wikipedia.com, diakses pada tanggal 9 Maret 2011, hari Rabu, pukul 20.00 WITA, Makassar

Hadi, S., 2008. Pertumbuhan dan Perkembangan. http///www.indokristi.com, diakses pada tanggal 9 Maret 2011, hari kamis, pukul 20.10 WITA, Makassar.

Odum, Eugene P., 1998. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Resosoedarmo, S., 1990. Pengantar Ekologi. PT. Remaja Rosdikarya. Bandung.

Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik Untuk Analisis Data. Novas. Bandung.

Santoso, A., 2007, Kolerasi, http///www.wikipedia.com, diakses pada tanggal 26 Maret 2009, hari kamis, jam 20.05 WITA, Makassar.

Umar, R., 2009, Penuntun Praktikum Ekologi Umum, Jurusan Biologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s