INDEKS PERBANDINGAN SEKUENSIAL HEWAN BENTOS DI EKOSISTEM PERAIRAN

Posted on Updated on

Berikut adalah postingan saya yang selanjutnya yaitu tentang INDEKS PERBANDINGAN SEKUENSIAL HEWAN BENTOS  DI EKOSISTEM PERAIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Semua organisme yang hidup di alam tidak dapat hidup sendiri. Kehidupan organisme di alam bergantung pada kelompoknya, kelompok yang lain serta lingkungan dimana ia tingggal. Organisme yang hidup dalam sebuah sistem ditopang oleh berbagai komponen yang saling mempengaruhi, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kesatuan dari seluruh sistem yang ada di alam disebut ekosistem. Ekosistem memperlihatkan adanya interaksi bolak balik antar makhluk hidup (biotik) dengan alam atau abiotik (Jati, 2007).
Ekosistem air tawar memiliki ciri-ciri di antaranya adalah variasi suhu yang tidak menyolok, penetrasi cahaya cukup, dan adanya pengaruh oleh iklim dan cuaca. Organisme dalam air dapat digolongkan berdasarkan energi dan cara hidupnya yaitu plankton, nekton, neuston, perifiton, dan bentos (Umar, 2009).
Ekosistem air tawar dapat digolongkan menjadi air tenang (lentik) dan air mengalir (lotik). Ekosistem yang termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk air mengalir yaitu sungai. Danau adalah suatu badan air yang menggenang dan berukuran luas. Daerah yang masih dapat ditembus cahaya disebut daeerah fotik dan daerah yang tidak ditembus cahaya disebut afotik (Pratiwi, 2002).
Untuk mengetahui mengetahui indeks perbandingan sekuensial keanekaragaman bentos di ekosistem perairan. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukanlah percobaan ini.

I. 2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui indeks keanekaragaman hewan bentos yang terdapat dalam suatu ekosistem perairan dengan menggunakan “Indeks Perbandingan Sekuensial”.
2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhan dan cepat dalam memprediksi keadaan suatu komunitas.
I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Pada pengambilan sampel dilakukan pada hari kamis, tanggal 23 April 2009, dari pukul 11.00-14.30 WITA. Bertempat di dekat Universitas Hasanuddin, Makassar.Praktikum dilaksanakan pada pukul 15.00-18.30 WITA yang bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Salah satu kelompok organisme penyusun ekosistem laut adalah bentos. Bentos istilah berasal dari Yunani untuk “kedalaman laut”. Bentos adalah organisme yang hidup di dasar laut dengan melekatkan diri pada substrat atau membenamkan diri di dalam sedimen. Mereka tinggal di atau dekat sedimen laut lingkungan, dari kolam pasang surut di sepanjang tepi pantai, ke benua rak, dan kemudian turun ke kedalaman abyssal. Daerah terkaya akan jumlah dan macam organisme pada sistem muara-laut ialah daerah bentik, yang terbentang dari pasang naik sampai suatu kedalaman di tempat tanaman sudah jarang (Ketoon, 2000).

Tubuh bentos banyak mengandung 2 kapur. Batu-batu karang yang biasa kita lihat di pantai merupakan sisa-sisa rumah atau kerangka bentos. Jika timbunannya sangat banyak rumah-rumah binatang karang ini akan membentuk Gosong Karang, yaitu dataran di pantai yang terdiri dari batu karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit( Kinnear, 2001).

Plankton adalah organisme yang melayang-layang permukaan air pergerakannya diatur oleh arus perairan. Cara ideal untuk mempelajari plankton merupakan cara yang tidak hanya memperkirakan jumlah makhluk hidup, namun juga suatu konsentrasi spesies sangat berbeda dalam ukuran. Umumnya plankton hewan  (zooplankton) lebih besar daripada plankton tumbuhan (fitoplankton). Beberapa fitoplankton mempunyai ukuran kurang dari 1/100 mm dan dapat lolos dari jarring-jaring plankton terhalus. Bentuk plankton seperti ini disebut sebagai nano plankton. Bentuk lebih besar yang tertahan oleh jarring-jaring plankton standar disebut plankton jaring atau plankton tersaring (Radiopoetra, 2000).

Plankton adalah organisme yang pergerakannya diatur oleh arus perairan. Cara ideal untuk mempelajari plankton merupakan cara yang tidak hanya memperkirakan jumlah makhluk hidup, namun juga suatu konsentrasi spesies sangat berbeda dalam ukuran. Umumnya plankton hewan  (zooplankton) lebih besar daripada plankton tumbuhan (fitoplankton). Beberapa fitoplankton mempunyai ukuran kurang dari 1/100 mm dan dapat lolos dari jarring-jaring plankton terhalus. Bentuk plankton seperti ini disebut sebagai nano plankton. Bentuk lebih besar yang tertahan oleh jarring-jaring plankton standar disebut plankton jaring atau plankton tersaring (Ketoon 2000).

Bentos merupakan beragam binatang dan tumbuhan yang hidup pada dasar perairan. Nama bentos diberikan pada organisme penghuni dasar. Harus benar-benar diketahui bahwa istilah “bentos” mencakup substrat pada garis pantai, demikian juga kedalaman terbesar dari badan air. Seperti dapat diharapkan, kondisi untuk kehidupan akan beragam tidak hanya pada kedalaman yang berbeda, namun juga dengan sifat fisik substrat, keragama demikian hanya beberapa sifat dapat diketahui. Hewan bentos dibagi berdasarkan cara makannya, yaitu pemakan penyaring, seperti kerang dan pemakan deposit seperti siput (Jati, 2007).

Nekton adalah organisme yang dapat bergerak dan berengan dengan kemauan sendiri.Neuston adalah organisme yang beristirahat dan pada permukaan perairan (Jati, 2007).

Perifiton atau lebih tepat aufwuchs adalah nama yang diberikan pada kelompok berbagai organisme yang tumbuh atau hidup pada permukaan bebas yang melayang dalam air seperti tanaman, kayu, batu dan permukaan yang menonjol (Jati, 2007)

Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan obat dan kosmetika.Benthic organisme, seperti bintang laut, kerang, kerang, teripang, bintang rapuh dan anemon laut, memainkan peran penting sebagai sumber makanan bagi ikan dan manusia (Pratiwi, 2002).

Klasifikasi benthos menurut ukurannya : Makrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih besar dari 1 mm (0.04 inch), contohnya cacing, pelecypod, anthozoa, echinodermata, sponge, ascidian, and crustacea. Meiobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran antara 0.1 – 1 mm, contohnya polychaete, pelecypoda, copepoda, ostracoda, cumaceans, nematoda, turbellaria, dan foraminifera. Mikrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0.1 mm, contohnya bacteri, diatom, ciliata, amoeba, dan flagellata.Berdasarkan morfologi dan cara makannya, bnethos dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) benthos pemakan deposit yang selektif (selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang sempit; (2) benthos pemakan deposit yang tidak selektif (non-selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang lebar; (3) benthos pemakan alga (herbivorous feeders); dan (4) benthos omnivora/predator (Kinnear, 2001).

Salah satu komponen yang memiliki variasi organisme yang cukup banyak dalam suatu perairan adalah bentos. Keragaman jenis suatu perairan sangat ditentukan oleh jenis substrat dasar, makin bervariasi substrat maka makin bervariasi pula organisme yang hidup di dalamnya. Umumnya organisme yang termasuk bentos didominasi oleh hewan-hewan dari kelompok gastropoda, bivalvia, crustaceae, dan annelida (Umar, 2009).

Penggunaan makrozoobentos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi.  Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar.  Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak tercemar.  Kemudian oleh para ahli biologi perairan, penge-tahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan(Radiopoetra, 2000).

Indeks keragaman jenis (H’) menggambarkan keadaan populasi organisme secara matematis, untuk mempermudah dalam menganalisa informasi-informasi jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas. Diantara Indeks ke-ragaman jenis ini adalah Indeks keragaman Shannon-Wiener.
Perbandingan antara keragaman dan keragaman maksimum dinyatakan se-bagai keseragaman populasi, yang disimbulkan dengan huruf E. Nilai E ini berki-sar antara 0 – 1. Semakin kecil nilai E, semakin kecil pula keseragaman populasi, artinya penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak sama dan ada kecenderungan satu spesies mendominasi, begitu pula sebaliknya semakin besar

nilai E maka tidak ada jenis yang mendominasi. Untuk melihat dominasi suatu spesies digunakan indeks dominansi (Jati, 2007).

Sebagai organisme yang hidupnya cenderung menetap di dasar perairan, maka pemanfaatan makrozoobentos untuk mengetahui kualitas perairan, akan dapat memberikan gambaran kondisi perairan yang lebih tepat. Namun dalam hal ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya proses pengambilan makrozoobentos dan pengidentifikasian. Penentuan kualitas perairan dengan menggunakan makrozoobentos dapat dilakukan dengan menghitung tingkat keanekaragaman, keseragaman dan dominansi serta dengan menggunakan model-model kelimpahan. Adapun untuk melihat keterkaitannya dengan faktor fisika-kimia perairan dapat dilakukan dengan pengujian secara regresi atau melalui analisa komponen utama.

Beberapa penelitian telah mengungkapkan beberapa spesies makrozoobentos yang dapat dijadikan indikator kualitas perairan, namun untuk kajian di wilayah pesisir informasi tentang ini masih terbatas (Pratiwi, 2002).

                                                                                                                                   BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1  Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu itu Eickman Crab, botol sample, ayakan (Mess), baskom, pinset, dan hand sprayer.

III.2  Bahan

Bahan yang digunakan yaitu pada percobaan ini yaitu bentos.

III.3 Cara Kerja

Cara kerja yang dilakukan pada praktikum adalah sebagai berikut

a.      Cara pengambilan sample

  1. Dibuka kedua belahan pengeruk eickman crab hingga menganga dan kaitkan kawat penahannya pada tempat kaitan yang terdapat pada bagian atas alat tersebut.
  2. Dimasukkan pengeruk secara vertical dan perlahan-lahan ke dalam air hingga menyentuh dasar perairan.
  3. Dijatuhkan logam pembeban sepanjang tali pemegangnya sehingga kedua belahan eickman crab akan menutup, dan Lumpur serta hewan yang terdapat di dasar perairan akan terhimpun dalam kerukan.
  4. Ditarik perlahan-lahan eickman ke atas dan isinya ditumpahkan ke dalam baskom yang sudah disediakan.
  5. Diayak sample sambil disiram air sehingga lumpur keluar dan sampah-sampah dibuang. Menyeleksi hewan bentos yang dijumpai dengan cermat, kemudia memasukkannya kedalam botol sampel yang berisi formalin 4%. Memberikan label pada masing-masing botol sample.
  6. Dilakukan pengambilan sample beberapa kali pada tempat yang berbeda.

b.      Cara kerja di laboratorium

  1. Diambil sample yang sudah diawetkan. Menumpahkannya kedalam baki plastik dan secara acak di ambil satu persatu dengan pingset dan meletakkannya pada petridisih yang lain sambil di urutkan.
  2. Diurutkan dan membandingkannya mulai antara no. 1 dengan no. 2, no. 2 dengan no. 3 dan seterusnya, kemudian melihatnya apakah sejenis atau tidak.
  3. Dilakukan pengamatan, kemudian jenis yang dianggap sama diberi kode yang sama dan ini berarti se “Run”. Hal ini dilakukan tidak peduli jenis apapun, asalkan serangkaian sample tadi dianggap sama.
  4. Dilakukan pengamatan sampai semua sample habis, mencatat semua data dalam buku kerja, kemudian melakukan perhitungan indeks keanekaragaman bentos tadi dengan menggunakan :

                                                S.C.I (I.P.S) = N Runs x N Taksa/ N Spesimen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s