KULTUR JARINGAN BEBERAPA KULTIVAR BUAH PISANG (Musa paradisiaca L.)

Posted on Updated on

KULTUR JARINGAN BEBERAPA KULTIVAR

BUAH PISANG (Musa paradisiaca L.)

DENGAN PEMBERIAN CAMPURAN NAA DAN KINETIN

Pisang merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi  di Indonesia.  Propinsi Kalimantan Selatan  merupakan salah satu  daerah produksi dan wilayah potensial dikembangkannya tanaman pisang.  Produksi  pisang rata-rata untuk Kalimantan Selatan tahun 1995 – 1999 adalah 20.571,8 ton, pada tahun 2000 adalah 11.731 ton,  dan pada tahun 2001 adalah  16.589 ton dengan luas panen 8.150 Ha. Jenis pisang yang dikenal di Kalimantan Selatan antara lain pisang manurun (kepok), pisang mauli (uli), pisang talas dan pisang raja.  Pisang kepok dan talas sering  dikonsumsi   oleh  masyarakat dalam bentuk kolak pisang atau pisanggoreng, sedangkan pisang mauli (uli)  sering dihidangkan sebagai pencuci  mulut dalam acara selamatan dan perkawinan.

Kendala pengadaan bibit unggul  secara konvensional adalah sulit  mendapatkan bibit yang berkualitas dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Salah satu keunggulan perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan adalah sangat dimungkinkan mendapatkan bahan tanam dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Dalam kultur jaringan pisang, sampai saat ini yang banyak dikenal adalah kultur dengan eksplan bonggol. Apabila dibandingkan dengan jantung pisang maka mendapatkannya lebih mudah dan jumlah eksplan yang didapat lebih banyak bahkan  mencapai 200 eksplan  setiap jantung  pisang, serta  lebih kecil resikonya terhadap kontaminasi sebab bukan berasal dari tanah dan tertutup rapat oleh kelopak.   Dalam percaturan pasar dunia,  kelompok pisang terkenal ialah  yang mempunyai susunan gen tripel (AAB dan AAA), bersifat triploid, dan tidak berbiji(partenokarpi) (Sunarjono, 2002).  Huruf besar “A” dan “B”  masing-masing menggambarkan banyaknya genom (kelompok kromosom) yang berasal dari nenekmoyang pisang diploid  Musa acuminata dan  Musa  balbisiana. Pisang  kepokmengandung  genom BBB, pisang  mauli  mengandung genom AA dan pisang raja mengandung genomAAB (Sunarjono, 2002).  Dari sekian banyak jenis media dasar yang digunakan dalam teknik kulturjaringan, tampaknya media MS (Murashige dan Skoog) mengandung jumlah hara organik  yang layak  untuk memenuhi kebutuhan  banyak jenis sel tanaman dalam kultur (Gunawan, 1990).

Dalam kultur jaringan, dua golongan  zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin  (Gunawan, 1990). NAA  (Naftaleine  Asetat Acid) adalah zat pengatur tumbuh yang tergolong auksin. Pengaruh auksin terhadap  perkembangan sel menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan sintesa protein. Dengan adanya kenaikan  sintesa protein, maka dapat digunakan sebagai sumber  tenaga dalam pertumbuhan. Adapun kinetin (6-furfury amino purine) tergolong zat  pengatur tumbuh  dalam kelompok sitokinin.  Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Dalam  pertumbuhan jaringan, sitokinin bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap deferensiasi jaringan (Sriyanti dan Wijayani, 1994).

Tujuan dari kultur jaringan ini adalah  untuk mengetahui (1) pengaruh interaksi antara NAA dan kinetin terhadap  pertumbuhan  eksplan tiga kultivar bakal buah pisangyang ditanam dengan teknik kultur jaringan, (2) pengaruh masing-masing  konsentrasi campuran NAA dan kinetin dengan kultivar pisang  yang terbaik terhadap pertumbuhan eksplan bakal buah pisang yang ditanam dengan teknik kultur jaringan, (3) pengaruh campuran NAA dan kinetin  yang terbaik pada kultivar pisang, dan  (4) pengaruh kultivar  pisang terhadap tingkat  keberhasilan kulturjaringan bakal buah pisang.  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jantung pisang, bahan kimia Media Murashige-Skoog dimodifikasi, zat pengatur tumbuh,sterilant dan alatalat yang digunakan adalah botol tanam,  gelas erlenmeyer, gelas ukur, pipet, neraca, pH-meter, otoklaf, lup, oven,  laminar air flow, hot plate, magnetic stirrer, kamera serta alat-alat lainnya. Penelitian ini menggunakan media MS dan zat pengatur tumbuh bertujuan untuk menginduksi tunas.  Penelitian ini disusun menurut Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial dengan menggunakan dua faktor.

Faktor pertama adalah zat pengatur tumbuh (a) yang terdiri dari 6 taraf konsentrasi:

1. a1 =  NAA 0,4 mg l-1 + kinetin 6 mg l-1

2. a2 =  NAA 0,4 mg l-1 + kinetin 9 mg l-1

3. a3 =   NAA 0,8 mg l-1 + kinetin 6 mg l-1

4. a4 =  NAA 0,8 mg l-1 + kinetin 9 mg l-1

5. a5 =  NAA 1,2 mg l-1 + kinetin 6 mg l-1

6. a6 =  NAA 1,2 mg l-1 + kinetin 9 mg l-1

Faktor kedua adalah kultivar pisang (b) yang terdiri dari 3 taraf:

1. b1 =  pisang kepok

2. b2 =  pisang uli/mauli

3. b3 =  pisang raja

Kombinasi perlakuan 6 x 3 diulang sebanyak 2 kali sehingga ada 36 unit percobaan, setiap unit percobaan ada 4 botol kultur masing-masing berisi satu eksplan.  Akuades dipersiapkan dalam botol-botol kecil dan disterilisasi basah dengan otoklaf  pada suhu 121oC, tekanan 17,5 psi dan waktu 15 menit. Laminar Air Flow sebelum digunakan disterilkan terlebih dahulu denganmengusapkan alkohol 90 % atau menyemprotkan alkohol 70 % pada dinding danalasnya kemudian didiamkan selama kurang lebih 30 menit.

Pembuatan media

Media yang  digunakan  pada tahap inisiasi dan tahap multipikasi adalah media MS yang telah dimodifikasi. Untuk pembuatan media,  senyawa makronutrient, myo-inositol dan sukrosa ditimbang dan dilarutkan ke dalam  erlenmeyer.  Kemudian ditambahkan larutan mikronutrient, vitamin, Fe. Na-EDTA dan zat pengatur tumbuh sesuai perlakuan yang dibuat dalam larutan stok.Keasaman larutan disesuaikan pH-nya sekitar 5,7 dengan bantuan HCl 0,1 N atau KOH 0,1 N. Tambahkan agar dan panaskan di atas hot plate dengan dibantu magnetic stirer sebagai pengaduk sampai larutan jernih dan mendidih. Media yang sudah dimasukkan ke dalam botol-botol kultur dengan volume masing-masing lebih kurang 20 ml, mulut botol ditutup aluminium foil dan dilapisi kertas kemudian diikat dengan gelang karet.  Kemudian botol-botol itu disterilkandengan otoklaf pada tekanan 1,5 atm, suhu 121oC selama 15 menit, setelah selesaidisimpan dalam ruangan dengan suhu kamar 23 – 28oC.

 

Sterilisasi dan penanaman eksplan

Jantung pisang diperoleh dari pohon pisang yang sedang berbuah.  Jantung (male bud) pisang dipotong dari tandan pisang yang  buah partenokarpinya telah  mencapai jumlah 9 sisir per tandan untuk pisang kepok dan mauli, dan 6 sisir untukpisang raja.  Pohon tersebut mempunyai sifat antara lain pertumbuhannya baik, tidak terserang hama dan penyakit, dan kondisi buahnya baik.  Jantung pisang tersebutterlebih dahulu dibuang  2 kelopak beserta jari bunganya, kemudian disemprotdengan alkohol 95 % dan dibuang  kembali 1 kelopak juga beserta jari bunganya, lalu dibawa ke Laminar Air Flow (LAF) dan disemprot dengan alkohol 95 % dan dilepas kelopaknya.

Jari bunga pisang dilepaskan dari petalanya, lalu  dipisah satu persatu. Eksplan yang digunakan adalah  bagian  ujung bakal buah  yang diperoleh dengan cara  membuang bagian pangkal bakal buah  dan tangkai sarinya. Eksplan tersebut ditanam dalam botol kultur  yang berisi  media MS yang dimodifikasi dan zat pengatur tumbuh sesuai dengan perlakuan, lalu diinkubasi  di ruang kultur yang suhunya dipertahankan antara 23 –  28oC, dengan  penyinaran lampu neon dengan ketinggian 60 cm dari botol kultur.

Pengamatan adalah  untuk mendapatkan data secara kuantitas terhadap perkembangan morfologi eksplan, dilakukan terhadap :  persentase  hidup,  kontaminasi, saat pembentukan  kalus dan secara kualitas pengamatan dilakukan terhadap : deferensiasi  morfologi eksplan/planlet.  Deferensiasi  morfologi dinilai pada minggu ke-4, ke-8, dan ke-12, dengan satuan penilaian tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s